SUMA’MUR PK : Bola Karet Sang Legenda (1)

Dr dr Suma'mur Prawira Kusumah, MSc, SpOK ketika diwawancara penulis pada November 2021. (Dok. Hasanuddin)
HSEmagz

RAUT wajahnya mengguratkan bagaimana ia telah melintasi zaman ke zaman. Setiap keriput yang tergores di wajah menjadi saksi bisu akan perjalanan hidup Dr dr H Suma’mur Prawira Kusumah (PK), MSc, SpOK dalam dunia K3 Indonesia. Usianya sudah mendekati angka sembilan dekade, persisnya 88.

Saat ditemui penulis di kediamannya di Jl Bangka II, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, beliau tampak sudah sepuh. Namun masih menyempatkan diri menyambut ramah kedatangan kami. Ditemani cucunya, ‘Bapak K3 Indonesia’ ini tampak mengenakan batik plus peci hitam. Lalu mempersilakan kami memasuki rumahnya. Di ruang tamu, beliau berkisah tentang perjalanannya mengarungi dunia K3 lebih dari 60 tahun, dan berikut kisahnya:

Bola Karet

Awal mula sekali ketertarikan saya pada K3 adalah dari betapa besar perhatian orangtua terhadap keselamatan dan kesehatan. Nama kecil ayah saya Slamet dan ia sangat memperhatikan betapa pentingnya keselamatan dalam kehidupan manusia, bukan saja keselamatan di dunia tetapi juga kehidupan akhirat. Betapa telitinya beliau memperhatikan keselamatan rumah tangga dan anak-anaknya, baik di dalam maupun di luar rumah yaitu ketika anak-anak pergi ke sekolah atau bepergian ke tempat yang dijadikan peristirahatan di daerah pegunungan berudara sejuk dengan pemandangan yang indah.

Adapun ibu yang bernama Aminah Prikasih, sangat besar perhatiannya terhadap kesehatan yaitu selalu menjaga, memelihara kesehatan anak-anaknya baik dengan memberikan nasehat tentang kesehatan maupun segala suatu tindakan yang perlu dilakukan terhadap kesehatan anak-anaknya termasuk pencegahan, pengobatan dan perawatan penyakit serta upaya-upaya meningkatkan kesehatan anak-anaknya dan ayah ibu sendiri seperti halnya tentang penerapan upaya pemeliharaan gizi yang baik serta olahraga yang perlu untuk pembentukan fisik anak-anaknya. Ibu juga sangat teliti dalam merawat anak-anak yang sakit dengan menggunakan cara pengobatan tradisional karena pada waktu itu di tempat kami belum ada dokter maupun juru rawat.

 

Sekalipun orangtua adalah pensiunan yang sudah berusia lanjut dan tidak mungkin bekerja lagi -kecuali ibu yang merupakan seorang guru sedangkan ayah juga pernah menjadi guru- mereka sangat mementingkan pendidikan anak-anaknya yang saya yakin biaya pendidikan anak-anak tidaklah ringan tetapi mereka tidak pernah mengeluh mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan sekalipun terkadang saya berpikir besarnya biaya yang dikeluarkan oleh orangtua untuk pendidikan dimaksud hampir mustahil dapat dipikul oleh kedua orangtua.

Alm Suma’mur PK bersama istri, anak, dan cucu. (Foto: Dok Hasanuddin)

Kiprah saya di K3 berawal di zaman Jepang. Di zaman Jepang penderitaan pekerja itu banyak sekali seperti makanan kurang, kekejaman di mana-mana. Maklum pemerintah militer. Saya waktu itu masih umur belasan tahun. Tidak seperti anak zaman sekarang, hiburan saat itu hanya sepakbola di jalanan. Bolanya juga bukan bola seperti sekarang. Dulu tuh bola karet yang diambil dari endapan karet beku yang kita buat jadi bola dan ini bolanya tidak mudah meletus walaupun rentan juga ya untuk meletus dikarenakan dimainkannya di jalan batu batu yang tajam. Waktu itu jalanan tidak semulus sekarang, banyak masih berupa jalan batu.

Di sinilah (saat usia remaja di zaman Jepang, red) saya mulai berkenalan dengan K3. Waktu itu saya melihat banyak pekerja kebun karet yang bekerja dengan pakaian seadanya tanpa sepatu yang melindungi kaki dari kemungkinan terluka ataupun infestasi parasit cacing yang mungkin saja terdapat di dalam tanah perkebunan. Banyak pekerja yang badannya sangat kurus dan tampak tidak segar (pucat). Kondisi ini membuat satu gambaran bagi saya bahwa keadaan pekerja itu tidak seperti apa yang saya bayangkan. Lalu saya berpikir untuk berbuat sesuatu kepada pekerja kebun karet. Itu yang saya bawa terus dalam pikiran bahwa saya harus berbuat sesuatu.

Setelah SMP saya harus melanjutkan SMA. Saya pindah dari Tasikmalaya ke Bandung karena waktu itu belum ada SMA di Tasikmalaya. Dari sini saya kemudian melanjutkan sekolah di Faktultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta. Waktu SD dan SMP saya mendapat nilai bagus. Nilai saya di SMA cukup bagus bahkan menjadi bintang pelajar se-Kotamadya Bandung, sehingga saya langsung diterima di Fakultas Kedokteran UI.

 

Suma’mur PK lahir di kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. Ayahnya, alm Slamet Prawira Kusumah, adalah seorang pegawai di pemerintahan Hindia Belanda.

 

Ketika kuliah di Fakultas Kedokteran UI, saya sering membaca buku kedokteran yang berkaitan dengan pekerjaan. Padahal saya kuliah kedokteran medik. Tetapi pikiran di masa kecil tentang pekerja kebun karet, terus terbawa. Saya dulu suka membaca buku berbahasa Inggris selain bahasa Indonesia. Di buku-buku itu ada tulisan dari guru besar yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, penyakit-penyakit akibat kerja. Lalu dipetakan sampai dia certiakan orang-orang yang mengalami kecelakaan hingga meninggal waktu itu. Termasuk para pekerja yang cacat, jika digariskan itu lebih banyak dari orang yang meninggal.

Di dalam pikiran saya waktu itu keinginan berbuat untuk pekerja makin tinggi lagi. Profesor Schiling menjelaskan penyakit akibat kerja dari debu kapas yang dialami para pekerja kapas. Penyakit yang disebabkan oleh debu kapas tersebut dikenal sebagai penyakit bisinosis yang gejalanya sulit dikategorikan menurut rangsangan fisik ataupun alergi sehingga para ahli selalu berbeda pendapat, dan oleh karena itu ketika saya dapat menimba ilmu mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, saya menulis skripsi (tugas akhir) di Universitas tentang patogenisasi bisinosis sebagai penyakit akibat kerja. Sripsi tersebut sampai sekarang masih berada di kepustakaan Universitas Cincinnati, Ohio AS.

 

Saat kuliah di Jakarta, Suma’mur PK mencari uang sendiri dengan menjadi guru pelajaran kimia dan fisika di SMA Widya Sana Jatinegara dan SMA Jayabaya, dengan penghasilan Rp 1.050/bulan. Dari peghasilan ini, beliau bisa membeli buku-buku untuk menambah keilmuannya. (bersambung/Hasanuddin)

 

Responses (4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *