HSEMagz

Bukan Sekedar Berita

Education Fire & Safety Insight Oli & Gas

Kebakaran Depo Plumpang, Ini Kata Pakar Forensik Api

JAKARTA, HSEmagz.com – Sebuah video yang memperlihatkan detik-detik kebakaran hebat yang melanda pemukiman di area Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM)/Depo Pertamina Plumpang, beredar tak lama setelah terjadi kebakaran.

Video itu diambil dari seorang warganet yang tengah berada di ketinggian dan merupakan warga di pemukiman yang terbakar. Kala itu ia tengah video call dengan sang istri yang kepanikan karena mencium bau bensin menyengat.

Dalam video berdurasi 28 detik itu, terlihat titik api berada di sebelah kiri. Api berkobar disertai asap hitam membubung tinggi ke angkasa.

Tak lama kemudian, di detik 13, api menyala di sebelah kanan dan detik 20 terjadi ledakan api, yang ditengarai kuat berasal dari pemukiman warga.

“Malam hari udara lebih rapat dibanding siang hari. Pada malam hari, radiasi panas bisa lebih cepat merambat,” kata Dr Ir Adrianus Pangaribuan, MT, PFE, CFEI, pakar forensik api, saat dihubungi HSEmagz.com, Selasa (7/3/2023) pagi.

Proses perambatan api dari titik api sebelah kiri (sebagaimana terlihat di tayangan video warganet), begitu cepat. Hanya dalam hitungan detik.

Baca juga: Teori Segitiga Api dalam Kasus Kebakaran Depo Plumpang

Sebagaimana disampaikan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo saat melakukan peninjauan ke lokasi kejadian pada Sabtu (4/3/2023),  sebelum terjadinya kebakaran, sedang ada aktivitas  penerimaan BBM jenis Pertamax dari Balongan yang diterima di Depo Plumpang.

“Jadi sementara yang bisa kita jelaskan pada saat kejadian kemarin kurang lebih jam 20.00 WIB sedang terjadi pengisian atau penerimaan minyak jenis Pertamax dari Balongan diterima di Depo Plumpang,” kata Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, Sabtu (4/3/2023).

Saat proses pengisian BBM itulah terjadi gangguan teknis. Gangguan teknis itu memunculkan tekanan kuat dan lantas terjadi kebakaran.

Dari informasi yang diperoleh HSEmagz.com, Pertamax merupakan cairan yang mudah menguap dapat menyala dan menimbulkan flash fire atau ledakan di dalam ruang tertutup. Meskipun sudah dilakukan “grounding” dan “bonding” dengan baik, material ini masih dapat menimbulkan arus elektrostatis. Jika muatan listrik sudah cukup terakumulasi, maka terjadi pelepasan arus elektrostatis dan nyala dari uap campuran yang berada di udara.

Baca juga: LESSON LEARNED: TBBM Plumpang Akan Direlokasi, Pertamina Buat Buffer Zone

Menurut Adrianus, flash fire bisa terjadi di ruang tertutup maupun terbuka. “Flash fire adalah dimana pada temperatur tertentu, material mulai terurai, bercampur dengan oksigen dan siap menyala namun belum menyala.  Dengan satu bantuan kecil saja, jika timbul Ignition temperatur (temperatur penyalaan) misalnya dari electrostatic dengan energi yang cukup maka terjadi kebakaran bahkan ledakan,” katanya.

Dikatakan electrostatic (listrik statis) bisa terjadi pada setiap aktivitas terutama jika ada aliran, baik aliran padat ke padat (pipa dilalui tepung), padat ke cairan (pipa dialiri cairan di dalamnya apapun jenis cairannya), padat ke gas (pipa dialiri gas di dalam, apapun jenis gas-nya), cairan ke cairan (bertemunya dua jenis aliran dengan beda kepadatan, density dan viscositas), gas ke gas, dan bahkan aktivitas sehari-hari.

ADRIANUS PANGARIBUAN. (Foto: Hasanuddin)

“Titik nyala Pertamax berada di suhu -43 derajat Celcius, berdasarkan data MSDS Pertamina. Pada suhu itu, pertamax akan terurai. Bisa dibayangkan, suhu udara kita rata-rata berapa derajat celcius,” sambung Adrianus.

Ketika terjadi kebocoran, jika memang dugaan ini benar sebagaimana dimaksudkan Kapolri sebagai gangguan teknis, maka Pertamax yang sudah lepas ke udara akan dengan sangat mudah menyala.

Adrianus bahkan menyebut alat elektronik seperti HP dan HT (Handy Talky) dalam situasi tersebut, bisa jadi sumber panas.

Baca juga: Jokowi: Area Sekitar Depo Zona Berbahaya

Mengenai dugaan petir, Adrianus menjelaskan bahwa ada empat kemungkinan sambaran petir yang bisa memicu terjadinya kebakaran. Yaitu:

  1. Direct coupling atau sambaran secara langsung
  2. Inductive coupling atau sambaran petir yang terjadi sekitar 1 km dari obyek
  3. Capasitive coupling atau sambaran petir dengan grounding berdekatan, lewat tanah
  4. Ohmis coupling sambaran petir yang terjadi karena adanya pergerakan sehingga menimbulkan tahanan listrik.

Adrianus mengingatkan bahwa petir tidak melulu menyambar bagian yang tinggi. Tetapi petir juga bisa menyambar obyek yang berada di antara dua obyek tinggi.

Dalam kasus kebakaran yang terjadi di area TBBM (Depo) Plumpang, Jakarta Utara pada Jumat (3/3/2023) malam dan mengakibatkan puluhan warga menjadi korban, termasuk meninggal dunia, Adrianus mempertanyakan apakah alat pengendali elektrostatis di TBBM Pertamina Plumpang saat peristiwa itu terjadi berfungsi atau tidak.

Kendati demikian, ia menyerahkan kepada pihak kepolisian dan pihak terkait lainnya yang kini tengah melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus kebakaran di TBBM Plumpang.

Adrianus hanya berharap penyelidikan bisa menyentuh dan menemukan akar masalah (root cause) dari peristiwa kebakaran tersebut.

Ia juga berharap agar pihak berwenang mempublikasikan hasil penyelidikannya secara ilmiah (scientific investigation) kepada publik agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari. (Hasanuddin)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *