HSEMagz

Bukan Sekedar Berita

Fire & Safety Insight Personal

ADRIANUS PAGARIBUAN : Dicibir dan Dimaki (4)

JAKARTA, HSEmagz.com – Pekerjaan yang dilakoni Adrianus Pangaribuan sebagai investigator api (fire investigator), tak selamanya mulus. Ada saja rintangan dan kendala.

“Tentu saja banyak suka dan dukanya menjadi menjadi seorang fire investigator, sukanya dengan ilmu fire ini saya sudah bisa keliling dan mendatangi hampir seluruh wilayah Tanah Air, bahkan beberapa tempat di dunia, bertemu dan berinteraksi dengan berbagai orang. Senang rasanya melihat hasil invesigasi bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan seharusnya,” kata Adrianus.

Dicontohkan, selain bisa mengungkap penyebab kebakaran dan ledakan secara detil, ia juga bisa memberikan masukan apa yang harus dilakukan di masa yang akan datang untuk perbaikan supaya hal yang sama tidak terjadi lagi di tempat yang sama atau tempat lain dengan penyebab yang sama. Juga membantu orang untuk mendapatkan haknya dan mencegah yang tidak berhak mendapat keuntungan dari suatu kejadian kebakaran.

Dukanya, ketemu orang yang tidak mengerti pekerjaan yang dilakukannya. Investigator  dianggap kerja yang mengada–ada, suatu pekerjaan yang tidak masuk akal dilakukan.

Adrianus bahkan mengaku sempat dicaci-maki lantaran pekerjaan yang dilakukannya, bisa dengan cepat mengungkap bahwa peristiwa kebakaran itu merupakan perbuatan yang disengaja (arson). Kala itu, ia pernah dikatakan investigator ‘goblok.’

Baca juga: ADRIANUS PANGARIBUAN: Mendalami Ilmu Api Karena 6 Stafnya Meninggal (1)

Terkadang ada juga yang berprasangka bahwa investigasi yang dilakukan membawa kepentingan dari pihak tertentu. Tentu saja kondisi ini tidak membuat dirinya terjebak dan saling bantah serta berdebat kosong.

Ia hanya menawarkan kepada mereka untuk menguji hasil investigasi yang telah dilakukan bersama timnya oleh orang yang mereka anggap pantas dan kompetensi yang sama untuk menguji hasil investigasinya.

Ada juga yang beranggapan mengapa harus diinvestigasi toh semua sudah hancur terbakar, kenapa tidak langsung dibangun, hanya buang waktu dan biaya. Bahkan ada satu atau dua kasus harus masuk ke pengadilan dimana penyelesaiannya belum tentu atau tidak lagi berdasarkan fakta teknis.

Latar belakang sebagai M/E engineer yang dilakukan hampir 12 tahun di awal bekerja, membuat Adrianus banyak terbantu bekerja sebagai fire investigator, terutama dalam melakukan investigasi pada kebakaran di dunia industri sebab lebih bisa memamahi proses dan kerja dunia industri dengan segala macam prosesnya. Termasuk menyangkut penggunaan jenis material dan material handling yang banyak tidak diketahui bahkan oleh pelaku industri itu sendiri.

Apalagi bagi Adrianus yang sering juga melakukan HAZOP Study (Hazard Operability Study), akan lebih diringankan dalam melacak sumber masalah dimana pola berpikir terbentuk dengan sendirinya.

Pengetahuan dan pengalaman inilah yang membawa dirinya diminta untuk membantu mengajar di FKM-UI untuk fire & explosion engineering dan investigasi walaupun sebagai dosen tamu.

Pada kesempatan yang sama ia juga diminta untuk membantu mengajar sampai hari ini di jurusan Rekayasa Keselamatan Kebakaran (RKK) di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) sebagai dosen luar biasa.

Baca juga: ADRIANUS PANGARIBUAN: Investigasi 200 Kasus Kebakaran (2)

Menurut Adrianus, RKK-UNJ sampai saat ini masih satu-satunya universitas di Indonesia yang ia ketahui mempunyai program S1 Fire engineering, walapun dengan segala kekurangannya.

“Namun paling tidak, kita sudah memulai sambil terus melakukan perbaikan. Selain saya juga sering  diminta untuk mengisi berbagai macam pelatihan dan seminar di berbagai kesempatan baik bagi institusi pemerintah, BUMN maupun swasta. Senang rasanya bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman sambil berharap dan bisa memotivasi untuk tumbuhnya fire engineer dan fire investigator lainnya di negara kita tercinta, Indonesia,” Adrianus menambahkan.

Dikatakan, secara umum hasil investigasi yang komprehensif akan meberikan input yang baik bagi dunia K3 untuk melakukan perbaikan atau improvement dari sistem yang ada, bahkan dari sesuatu yang tidak diduga sama sekali.

Ayah tiga anak ini memberikan ilustrasi dari suatu kasus kebakaran yang pernah diinvestigasinya. Kali ini dari perspektif aliran udara yang mengandung partikel debu yang mana pada akhirnya menjadi penyebab kebakaran.

Pernah ia mendapat pekerjaan investigasi di salah satu industri dimana terjadi kebakaran dari dalam saluran ventilasi (ducting) secara tiba-tiba. Saat itu semua ducting metal membara dan akhirnya menimbulkan ledakan.

Setelah diinvestigasi ternyata yang terjadi adalah akibat terjadinya endapan (sendimentasi) di dalam ducting (round duct). Saat saat pertama kali didisain, ducting dipasang sesuai dengan kecepatan aliran udara, volume, kapasitas dan tekanannya.

Namun setelah beberapa tahun beroperasi di dalam ducting terjadi sendimentasi atau endapan yang mengeras (terutama aliran udara yang berminyak), sehingga secara perlahan endapan ini menyebabkan diameter (luas penampang) ducting berkurang dan mengecil.

Imbasnya, tekanan dan kecepatan udara di dalam ducting naik, namun di sisi lain volume dan kapasitas menurun. Karena bentuk endapan yang tidak beraturan mengakibatkan terjadinya turbulensi (persamaan aliran Stokes).

Baca juga: ADRIANUS PANGARIBUAN: Setiap Kebakaran ‘Kok’ Karena Listrik (3)

Persamaan Stokes ini kemudian dilanjutkan oleh Navier (dikenal sebagai persamaan Navier – Stokes) yang dapat menghubungkan aliran turbulensi dengan timbulnya electrostatic discharge. Electrostatic yang terjadi di dalam ducting menyebabkan terjadinya pembaraan dan penyalaan debu di dalam ducting, sehingga ducting tadi sepanjang instalasinya membara.

“Dalam hal ini salah satu hal memperlihatkan hubungan yang jelas antara industrial hygiene dengan fire dan explosion, sehingga debu di dalam ducting bukan hanya bisa menimbulkan dampak kesehatan karena dampak terhadap pernapasan namun juga bisa memberikan dampak yang lebih jauh yaitu fire and explosion (debu pada konsentrasi 48kg/m3 sampai dengan 63 gr/m3 dengan particle size di bawah 200 mikron berubah sifat menjadi bahan bakar dan bahan peledak),” ungkapnya. (bersambung/Hasanuddin)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *