Prof Suprapto, Sistem Proteksi Kebakaran Pasif Masih Kurang Diperhatikan (3)

SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN
HSEmagz

JAKARTA, HSEmagz.com – Ketika terjadi kebakaran, langkah pertama yang dilakukan adalah pemadaman. Dan yang ada di ingatan adalah APAR (Alat Pemadam Api Ringan) atau hydrant.

“Kalau bicara soal kebakaran, secara umum orang langsung ingat APAR dan hydrant.  Tapi mereka mungkin kurang begitu memahami bahwa sistem pasif  pun penting, terutama dalam mencegah keruntuhan bangunan,” kata Prof Suprapto.

Pria berkacamata ini lantas menyebut kasus kebakaran hebat yang melanda Gedung Sarinah di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat pada 1984.

Kebakaran itu mengakibatkan gedung Sarinah runtuh. Saat itu terjadi perdebatan.

“Kalau ahli dari ITB mengatakan lantainya terbakar lalu numpuk ke bawah dan langsung ambruk. Tapi hal ini disanggah oleh auditor dari Ution, yang mengatakan itu adalah kolom dan bukan lantai. Akhirnya tidak ada titik temu dan yang mengerjakannya (gedung Sarinah, red) adalah pihak Pekerjaan Umum,” kata Suprapto.

Dari kasus kebakaran gedung Sarinah itulah, Suprapto berpendapat bahwa sistem proteksi kebakaran pasif merupakan aspek penting dalam sebuah bangunan apalagi gedung.

Baca juga: Prof Suprapto, Fisikawan yang Tertarik pada Sistem Proteksi Kebakaran (1)

Kakek delapan cucu ini berkisah, kala itu ia menemui banyak kendala setiap bicara pentingnya sistem proteksi kebakaran pasif di berbagai forum.

Aneka kendala itu lebih dipicu karena banyak pihak yang belum memahami sistem proteksi kebakaran pasif.

Tapi bukan Suprapto namanya jika tidak gigih menyuarakan sesuatu yang menurutnya sangat penting dalam upaya mencegah meluasnya perembetan api dalam suatu peristiwa kebakaran.

“Penting sekali sistem pasif untuk mencegah sebaran api dari satu ruang ke ruang lain, baik veritikal maupun horizontal,” katanya.

Lambat laun, seiring bergulirnya waktu, sistem proteksi kebakaran pasif mulai dikenal luas.

Menurutnya, ketika itu muncul juga istilah ketahanan api. Sejauh mana ketahanan suatu konstruksi bangunan bisa runtuh karena api.

Biasanya ketahanan api dinyatakan dalam jam atau menit. Dicontohkan, rumah sakit harus bertahan di tempat dengan konstruksi tahan api selama 4 jam, sedangkan yang lain mungkin 2 jam.

Baca juga: Prof Suprapto, Kebakaran Bali Beach Hotel dan Misteri Kamar 327 (2)

“Jadi istilah ketahanan api menjadi semakin penting, dan itu ada pada sistem pasif,” Suprapto menegaskan.

Kemudian ada pula perlindungan terhadap penembusan-penembusan dinding atau lantai harus diberi bahan fire stopping.

Jadi kalau sistem aktifnya kurang, bisa diimbangi dengan sistem pasifnya. Sebaliknya, jika sistem pasif kurang maka harus diimbangi dengan sistem aktif yang lebih lengkap. Dua-duanya saling mengisi.

“Tapi sekarang orang masih kurang memperhatikan sistem proteksi kebakaran pasif, sehingga saya membuat tulisan mengenai pentingnya sistem proteksi pasif. Mengapa sistem pasif kurang diperhatikan masyarakat? Menurut saya, yang pertama akibat kurangnya sosialisasi,” Suprapto menambahkan.

Yang perlu diketahui, sistem proteksi kebakaran itu bukan domain orang teknik fisika. Sedangkan detector sprinkle dari mesin elektro, terlalu sistem.

Oleh karenanya jalan keluarnya adalah arsitektur. Jadi ada yang disebut dengan “arsitektur fire safety,”  ada yang disebut dengan “instalasi-instalasi proteksi kebakaran”, sehingga berbagai bidang ilmu mestinya dilibatkan di dalamnya.

“Tapi bagian sipil lah yang lebih penting, sehingga ada yang namanya fire structure protection,” pungkas Suprapto. (bersambung/Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *